sebuah gerakan sederhana mencintai bumi

Jum’at, 8 April 2011

Gerimis tipis mewarnai langit Kledung ketika kami tiba di sana senja itu.

Dingin. Itulah kesan pertama kami tentang desa kecil yang memisahkan gunung Sindoro dan gunung Sumbing itu. Dan di desa kecil itulah basecamp pendakian Sindoro berada, tujuan kami menginap malam ini.

Di basecamp ini, berkumpul dua puluh lima muda-mudi dari berbagai daerah yang akan melakukan pendakian gunung Sindoro. Adalah Zot, Indra, Uda, Faisal dan Odonx dari Bandung. Serta Peppy, Nina, Ayik, Hadi, Didhin dan Zaki dari Semarang. Yuli, Nana, Tosi, Pakde Totok, Shandy, Dhanny dan Mas Bejo dari Jogjakarta. Nanang, Moko, Umay dan Adi dari Wonosobo. Bang Fauzan dan Shopie dari Surabaya. Melengkapi semuanya adalah Pakde Jenggot dari Demak.

Yang paling unik dari kelompok ini adalah hanya sangat sedikit dari mereka yang pernah bertemu muka sebelumnya. Sedang yang lain, tahu nama saja tidak. Namun itu tidak menjadi masalah sama sekali. Perkenalan singkat langsung berganti canda tawa yang susah dihentikan.

Sabtu, 9 April 2011

Matahari telah cukup lama menyapa ketika kami memulai pendakian. Jalan setapak dari batu yang di tata rapi mengawali tanjakan yang kami hadapi pagi itu. Sekitar dua kilometer kemudian, kami keluar dari jalan berbatu rapi, memasuki hutan cemara. Jalan tanah bercampur kerikil dibawah pohon cemara membuat kami harus sedikit berhati-hati melangkahkan kaki. Apalagi tanjakan semakin tinggi jika dibandingkan jalanan batu sebelumnya. Akhirnya, hutan cemara berakhir pada pos satu. Dilanjutkan dengan jalanan sempit dan tebing disisi kanan dan sesekali jajaran rumput hutan setinggi lutut.

Kami harus dua kali menyeberangi jembatan kayu yang tak kokoh dan keluar masuk hutan yang rindang sebelum akhirnya bisa mencapai sisa-sisa pos dua. Ya! Benar-benar sisa, sebab pondok kayu yang dulunya berdiri di pos dua sekarang hanya tinggal asap seng nya saja. Itupun sudah tidak utuh lagi.

Melewati pos dua, kami menemukan jalur pendakian yang sedikit berbeda. Kali ini, kami harus keluar masuk jalur aliran air yang terkadang lebar dan tak jarang menyempit. Bongkahan batu maupun tanah berkerikil juga semakin sering kami jumpai. Sebagai gantinya, tidak ada pohon-pohon rindang di atas kami. Semua serba terbuka. Sehingga sesekali, kami melepas lelah sambil menikmati keindahan gunung Sumbing yang berada jauh di belakang punggung kami.

Meski telah berpuluh kali kami berhenti untuk melepas lelah, tujuan pendakian hari ini masih jauh di depan kami. Dengan langkah yang mulai tertatih dan perjalanan yang sudah merangkak perlahan. Kami berhenti di pos tiga, dimana kami memutuskan untuk melakukan jamak sholat dhuhur dan ashar sembari mengambil jeda beristirahat yang cukup lama.

Pendakian kami lanjutkan ketika senja mulai mempersiapkan dirinya. Justru disinilah kami semua dibuat tercengang. Bukannya melandai, jalur pendakian yang kami hadapi setelah pos tiga semakin menggila. Dengan tanjakan-tanjakan tajam dan bebatuan yang lebih terjal, kami benar-benar diuji. Rombongan yang sebelumnya cukup berdekatan, kini semakin berpencar menjadi tiga bagian yang terpisah jauh. Rombongan terdepan melesat cepat karena khawatir pada gelap yang semakin mendekat. Rombongan tengah mulai kebingungan antara mengejar rombongan di depan mereka atau menanti rombongan di belakangnya. Sementara rombongan terakhir semakin tertinggal demi menikmati tanjakan-tanjakan hebat dengan pasrahnya.

Senja pun tlah turun, satu persatu lampu perjalanan dinyalakan. Tanjakan terjal tidak mereda, sementara separuh anggota tidak membawa alat penerangan. Perjalanan menjadi dua kali lebih lambat. Sayup-sayup adzan maghrib terdengar dari desa Kledung jauh dibawah kami. Dan kami masih belum mau menyerah. Sebab Watu Tatah, daerah terbuka dan agak berbatu yang menjadi tujuan akhir pendakian hari ini belum menunjukkan tanda-tandanya di depan kami.

Watu Tatah berjarak sekitar satu jam saja dari puncak Sindoro. Biasanya digunakan sebagai camp terakhir untuk mendirikan tenda, sebelum para pendaki melakukan perjalanan di pagi buta demi menikmati terbitnya matahari di puncak Sindoro. Itulah sebabnya kami harus sampai disana malam ini.

Malam semakin gelap. Kami mengalah pada batas pandang di depan kami. Hanya merangkak dengan kedua tangan dan kaki yang kami mampu. Gerimis datang bebarengan dengan suara adzan isya yang lirih terdengar dibelakang kami. Dan kami tetap merangkak naik.

Detik yang lambat membentuk menit menyiksa kami. Menorehkan guratan-guratan lelah pada dinding kesadaran kami. Berulang kali kami terombang-ambing diantara sadar dan setengahnya, diantara melangkah dan menyerah.

Mengumpulkan menit demi menit bahkan meruntuhkan kepercayaan kami. Kami tak lagi percaya pada jarak, kami tak lagi percaya pada suara. Yang kami percaya hanyalah melangkah, merangkak dan menanjak. Meski akhirnya kami menyerah pada Watu Tatah, kami berhenti beberapa ratus meter dibawahnya. Kami berterimakasih pada tenda, pada secangkir kopi dan api unggun. Hingga kami terlelap.

Ahad, 10 April 2011

Ketika kami terjaga, langit masih sama gelap. Milyaran bintang yang sebelumnya sama sekali kami abaikan, berkedip-kedip memenuhi atap gunung Sindoro. Perjalanan berikutnya dimulai. Menuju puncak Sindoro. Dengan setengah anggota memilih bertahan di tenda, setengahnya lagi mulai mendaki puncak Sindoro. Menikmati terbitnya matahari pagi serta mencicipi dinginnya air telaga.

(…berlanjut…)

Comments on: "Sindoro (laporan singkat…)" (5)

  1. komentnya ntar aja klo udh selese smuanya wkwkwkwk… ^^

  2. mbk nina ketinggalan di nama-nama di atas…rombongan semarang g ada..surabaya juga ga ada….wkwkwkwkw

  3. kapan lagi ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: