sebuah gerakan sederhana mencintai bumi

Siang beranjak mendekati sore ketika pesan yang kesekian kali aku kirimkan ke salah satu relawan GPL Jogja dan Semarang. Diantara menjawab pesan singkat relawan GPL Jepara tentang keberadaan kami yang tak kunjung datang, serta meminta konfirmasi keberadaan relawan GPL Semarang. Resah jelas mewarnai raut mukaku sore ini. Satu-persatu pesan masuk dari kawan-kawan Jepara yang memberitahukan bahwa mereka sudah tiba di lokasi. Beberapa kali aku meminta mereka bersabar, justru aku lah yang nampak tidak sabar.

Pukul tiga lebih dua puluh menit, akhirnya Mbak Nina, Pakde Jenggot, Dhanny dan Pepy tiba di rumahku. Meski lebih dari satu jam kami terlambat, kami memutuskan untuk berhenti sejenak, menikmati air es (meski mereka merengek minta es degan :) ) dan menjalankan sholat ashar di mushola samping rumah.

Mendekati pukul empat sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Teluk Awur. Meninggalkan Pecangaan melalui desa pengrajin tenun ikat, Troso, kami menikmati aktivitas kampung yang seolah tak pernah berhenti. Keluar dari desa pengrajin tenun ikat, iring-iringan kami menyusuri desa demi desa yang ramai dengan aktivitas pengrajin mebel. Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit tersebut berjalan lancar.

Sampai di Teluk Awur, beberapa relawan sudah menanti di halaman mushola Alhikmah. Pantai Teluk Awur yang menjadi target bersih-bersih GPL kali ini terbagi menjadi dua bagian, utara dan selatan. Setelah mengadakan persiapan dan koordinasi kegiatan secukupnya, kami bergerak menuju pantai Teluk Awur utara, lokasi pertama susur pantai dan bersih-bersih sore ini.

Pantai Teluk Awur utara tidak luas, namun melebar ke arah daratan. Sabtu sore yang teduh membuat pantai ramai dengan pengunjung. Kegiatan dimulai. Relawan disebar memanjang dengan kantong plastik di tangan, kemudian bergerak serentak menyusuri pantai sambil mengumpulkan kepingan-kepingan sampah non organik. Beberapa relawan siap dengan pembatas buku GPL untuk dibagikan kepada para pengunjung.

Satu dua pengunjung terkesan tertarik dan simpatik dengan kegiatan GPL, namun tidak sampai bergerak dan membantu kami melakukan bersih pantai. Mungkin kami harus lebih agresif untuk mengajak mereka.

Di sisi utara ini, kami belum menemukan satu pun tempat sampah yang tersedia, sehingga terlihat onggokan sampah bekas terbakar di beberapa titik pantai. Pantai yang teduh menjadi berkurang indahnya karena sampah.

Kami masih memiliki semangat yang tinggi ketika kegiatan harus dihentikan. Adzan maghrib yang terdengar, mengajak kami kembali ke mushola Alhikmah. Menikmati teh hangat sambil mempersiapkan diri melaksanakan sholat maghrib, sementara beberapa relawan meminta diri pulang ke rumah mereka untuk kembali lagi malamnya.

Canda dan tawa mewarnai jeda kegiatan kami hingga selepas isya. Relawan yang pulang telah kembali. Diskusi dan presentasi tentang sampah, masalah dan pengelolaannya, berlangsung hingga mendekati pukul sepuluh malam.

Kantuk yang sempat menghantui selama diskusi segera menguap ketika kami berjalan menenteng tenda dan perlengkapan lain menuju pantai Teluk Awur selatan. Di sini kami mendirikan tenda dan berencana bermalam, sebab esok hari giliran sisi selatan yang hendak kami susur.

Dua tenda berdiri gagah. Giliran kami membongkar peralatan masak di depan tenda; beras, mie rebus, kopi. Cukup! Itu yang kami butuhkan malam ini. Sambil mendengarkan lagu baru yang segera akrab di telinga kami.

Gajah… Kupu-kupu, terbang rendah di depanku…..

Aku mengejarmu, jangan lari dariku

Gajah… kupu-kupu, menari-nari di mataku….

Ku ingin menyentuhmu… jangan lari dariku…..

Lagu Gajah Kupu-kupu besutan Den Basito tersebut, secara tidak resmi namun mutlak, menjadi original sound track bersih pantai Teluk Awur, Jepara. Berkali-kali lagu tersebut kami putar hingga larut malam. Bahkan lagu tersebut nantinya sering terdengar dari mulut relawan GPL Teluk Awur hingga kami berpisah menuju rumah kami masing-masing.

Bulan belum lagi purnama. Namun sinarnya telah cukup menguatkan pandangan kami pada malam tanpa penerangan ini. Menunggu nasi yang belum matang, kami bergerak ke bibir pantai. Membasahi kaki dengan air laut yang sejuk. Beberapa ikan dan udang yang melintas menggoda kami untuk mendapatkan makanan tambahan. Jadilah malam ini kami berburu ikan di pantai. Dengan bantuan head lamp dan senter pada handphone, kami berusaha menangkap ikan, kepiting dan udang yang kami lihat. Hasilnya lumayan juga mengingat kami menangkapnya dengan tangan.

Makan malam sederhana namun menjadi menu wajib kami telah tersedia. Bergantian kami menikmati nasi hangat, mie rebus ditambah udang dan ikan bakar yang kami tangkap. Bergelas-gelas kopi dengan aneka racikan pun dihidangkan. Manis, setengah manis, hingga pahit sekali.

Obrolan, nyanyian, canda tawa mengantar kami pada larutnya malam. Membawa kami memasuki pagi yang dini. Meski satu-persatu kami meninggalkan tempat duduk dan merangsekkan badan di dalam tenda yang hangat. Hangatnya kayu-kayu yang terbakar menemani obrolan yang tersisa hingga subuh membangunkan semua yang memilih terlelap.

Subuh datang, kami harus bersiap. Menyegarkan diri dengan air wudlu dan sholat subuh. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk ketika menuju mushola. Kami harus bergegas. Merapikan sisa obrolan semalam dan meringkasnya dengan rapi di samping tenda.

Gelas-gelas kopi sisa semalam belum sempat kami bersihkan ketika kami kembali menyeduh air pagi ini. Menikmati aroma kopi sembari duduk memandang pantai dan mendengar debur ombak yang tak seberapa besar, kesempatan emas yang enggan kami lewatkan.

Pengunjung pantai mulai berdatangan, mendahului matahari yang terhalang pepohonan tinggi di belakang kami. Kami berbenah di bawah tatapan pedagang yang selesai menata lapaknya. Pengunjung yang ramai menggelar tikar di dekat tenda. Seolah hendak mengatakan bahwa ini tempat favorit mereka. Sekarang maupun hari-hari sebelumnya.

Kami bergegas, membagikan kantong plastik kepada seluruh relawan dan mulai menyisir pantai Teluk Awur selatan ini. Memungut sampah non organik dan membagikan pembatas buku bertuliskan semangat GPL, Sebuah Gerakan Sederhana Mencintai Bumi. Lagi-lagi kami menemukan tempat-tempat sampah dadakan, setumpuk sampah dengan sisa pembakaran yang tidak sempurna.

Melihat kami dengan kantong plastik yang penuh sampah, pedagang kemudian melepaskan senyum dan menyapa kami dengan lebih akrab. Beberapa nelayan yang sedang menikmati kopinya pun meminta kami memotret mereka. Sungguh melegakan. Ternyata masyarakat dan pengunjung akhirnya mengerti maksud kami.

Setelah semua sampah terkumpul, kami melakukan evaluasi sejenak tentang kegiatan yang telah kami lakukan sejak hari sebelumnya. Berbagai masukan dan permasalahan diajukan. Sampai tiba-tiba seorang ibu yang duduk bersama keluarganya di samping tenda menginterupsi kami. Beliau menyampaikan terima kasih terdalam kepada relawan GPL dengan aksinya. Sungguh melegakan.

Selesai semuanya, kami membongkar tenda dan membawa semua sampah yang terkumpul. Pukul delapan tiga puluh menit Kami berpamitan pada keluarga mbak Khoir, yang menjadi tuan rumah kami disana, sebelum membawa sampah kami ke tempat pembuangan sampah.

Dan kami, melaju di atas motor menuju desa Bulu untuk menyeberang ke Pulau Panjang….

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: