sebuah gerakan sederhana mencintai bumi

Panitia Pelaksana Pengukuhan GPL :

Ketua Umum : Dhanny A W

Ketua Pelaksana : Antosi Nur S

Dokumentasi : Shanditya W H

Lapangan dan Perlengkapan : S Lainin Nafis, Mas Nanang, Mbah Jenggot

—————————————————–

Rencana Biaya :

1. Penyebrangan PP Rp. 10.000
2. Iuran Air Galon Rp. 5.000
3. Stiker Rp. 1.000
4. Slayer Rp. 4.000

Jumlah total iuran per orang Rp. 20.000

—————————————————–

Perlengkapan yang harus dibawa :

1. Pakaian ganti selama 3hari 2malam
2. Jaket / pakaian hangat dan jas hujan / mantel
3. Senter / penerangan + batrei cadangan
4. Sepatu lapangan + kaus kaki cadangan + sandal
5. Hand Sanitizer (pembersih tangan)
6. Kantung plastik untuk membungkus barang pribadi
7. Kaus tangan
8. Kartu identitas + uang + alat komunikasi (HP)
9. Buku catatan + ballpoint
10. Sunblock + Peralatan mandi
11. Peralatan Navigasi : jam tangan, kompas, GPS, dsb (jika punya)
12. Makanan untuk pribadi selama 3hari (Beras, Mie, Roti, Sardinnes, dsb)
13. Alat masak (kompor portable + gas / kompor parafin, nesting / panci, alat makan) tiap daerah diharapkan membawa
14. Tenda apapun + matras (jika punya)
15. Polybag / Trash Bag / kantung plastik besar untuk tempat sampah

—————————————————–

Jadwal Pengukuhan GPL

 

  • Jum’at, 30 September 2011

14.00 WIB ~ Persiapan Menyebrang

15.00 WIB ~ Menyebrang ke Pulau Panjang

15.30 WIB ~ Sholat Ashar + Ke lokasi Camp

16.15 WIB ~ Ice Breaking

17.00 WIB ~ Mendirikan Tenda

17.30 WIB ~ REST + Sholat Magrib + Makan + Sholat Isya’

19.30 WIB ~ Pembukaan Acara dan Pengarahan

21.30 WIB ~ Tidur

 

  • Sabtu, 1 Oktober 2011

04.30 WIB ~ Bangun + Sholat Subuh

05.30 WIB ~ Olahraga

06.30 WIB ~ Bersih Diri

07.30 WIB ~ Sarapan

08.00 WIB ~ Persiapan Kegiatan

08.30 WIB ~ Briefing Kegiatan (Materi Perlengkapan Perjalanan + P3K)

09.00 WIB ~ Mulai Kegiatan Lintas Alam Pulau Panjang

12.00 WIB ~ REST AREA (Makan Siang + Sholat Dzuhur)

Materi :          1. Sampah dan Macamnya

                            2. Pengenalan Alam

                           3. Survival Praktis

13.00 WIB ~ Melanjutkan Perjalanan Lintas Alam Pulau Panjang

14.00 WIB ~ Laporan dan Evaluasi Kegiatan Lintas Alam

15.00 WIB ~ Sholat Ashar

15.30 WIB ~ Acara Bebas

17.00 WIB ~ Sunset

17.30 WIB ~ REST + Sholat Magrib + Makan + Sholat Isya’

19.30 WIB ~ Api Unggun + Diskusi Daur Ulang Sampah

21.00 WIB ~ Agenda Malam

23.00 WIB ~ REST

 

  • Minggu, 2 Oktober 2011

04.30 WIB ~ Bangun + Sholat Subuh

05.30 WIB ~ Sunrise

06.30 WIB ~ Bersih Diri

07.30 WIB ~ Sarapan

08.00 WIB ~ Beres-beres + Packing

08.30 WIB ~ Closing + Kesan dan Pesan

09.00 WIB ~ Menyebrang ke Jepara

09.30 WIB ~ SAYONARA

—————————————————–

Update mengenai kegiatan akan disampaikan disini.

Terima Kasih, Salam Lestari

Siang beranjak mendekati sore ketika pesan yang kesekian kali aku kirimkan ke salah satu relawan GPL Jogja dan Semarang. Diantara menjawab pesan singkat relawan GPL Jepara tentang keberadaan kami yang tak kunjung datang, serta meminta konfirmasi keberadaan relawan GPL Semarang. Resah jelas mewarnai raut mukaku sore ini. Satu-persatu pesan masuk dari kawan-kawan Jepara yang memberitahukan bahwa mereka sudah tiba di lokasi. Beberapa kali aku meminta mereka bersabar, justru aku lah yang nampak tidak sabar.

Pukul tiga lebih dua puluh menit, akhirnya Mbak Nina, Pakde Jenggot, Dhanny dan Pepy tiba di rumahku. Meski lebih dari satu jam kami terlambat, kami memutuskan untuk berhenti sejenak, menikmati air es (meski mereka merengek minta es degan :) ) dan menjalankan sholat ashar di mushola samping rumah.

Mendekati pukul empat sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Teluk Awur. Meninggalkan Pecangaan melalui desa pengrajin tenun ikat, Troso, kami menikmati aktivitas kampung yang seolah tak pernah berhenti. Keluar dari desa pengrajin tenun ikat, iring-iringan kami menyusuri desa demi desa yang ramai dengan aktivitas pengrajin mebel. Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit tersebut berjalan lancar.

Sampai di Teluk Awur, beberapa relawan sudah menanti di halaman mushola Alhikmah. Pantai Teluk Awur yang menjadi target bersih-bersih GPL kali ini terbagi menjadi dua bagian, utara dan selatan. Setelah mengadakan persiapan dan koordinasi kegiatan secukupnya, kami bergerak menuju pantai Teluk Awur utara, lokasi pertama susur pantai dan bersih-bersih sore ini.

Pantai Teluk Awur utara tidak luas, namun melebar ke arah daratan. Sabtu sore yang teduh membuat pantai ramai dengan pengunjung. Kegiatan dimulai. Relawan disebar memanjang dengan kantong plastik di tangan, kemudian bergerak serentak menyusuri pantai sambil mengumpulkan kepingan-kepingan sampah non organik. Beberapa relawan siap dengan pembatas buku GPL untuk dibagikan kepada para pengunjung.

Satu dua pengunjung terkesan tertarik dan simpatik dengan kegiatan GPL, namun tidak sampai bergerak dan membantu kami melakukan bersih pantai. Mungkin kami harus lebih agresif untuk mengajak mereka.

Di sisi utara ini, kami belum menemukan satu pun tempat sampah yang tersedia, sehingga terlihat onggokan sampah bekas terbakar di beberapa titik pantai. Pantai yang teduh menjadi berkurang indahnya karena sampah.

Kami masih memiliki semangat yang tinggi ketika kegiatan harus dihentikan. Adzan maghrib yang terdengar, mengajak kami kembali ke mushola Alhikmah. Menikmati teh hangat sambil mempersiapkan diri melaksanakan sholat maghrib, sementara beberapa relawan meminta diri pulang ke rumah mereka untuk kembali lagi malamnya.

Canda dan tawa mewarnai jeda kegiatan kami hingga selepas isya. Relawan yang pulang telah kembali. Diskusi dan presentasi tentang sampah, masalah dan pengelolaannya, berlangsung hingga mendekati pukul sepuluh malam.

Kantuk yang sempat menghantui selama diskusi segera menguap ketika kami berjalan menenteng tenda dan perlengkapan lain menuju pantai Teluk Awur selatan. Di sini kami mendirikan tenda dan berencana bermalam, sebab esok hari giliran sisi selatan yang hendak kami susur.

Dua tenda berdiri gagah. Giliran kami membongkar peralatan masak di depan tenda; beras, mie rebus, kopi. Cukup! Itu yang kami butuhkan malam ini. Sambil mendengarkan lagu baru yang segera akrab di telinga kami.

Gajah… Kupu-kupu, terbang rendah di depanku…..

Aku mengejarmu, jangan lari dariku

Gajah… kupu-kupu, menari-nari di mataku….

Ku ingin menyentuhmu… jangan lari dariku…..

Lagu Gajah Kupu-kupu besutan Den Basito tersebut, secara tidak resmi namun mutlak, menjadi original sound track bersih pantai Teluk Awur, Jepara. Berkali-kali lagu tersebut kami putar hingga larut malam. Bahkan lagu tersebut nantinya sering terdengar dari mulut relawan GPL Teluk Awur hingga kami berpisah menuju rumah kami masing-masing.

Bulan belum lagi purnama. Namun sinarnya telah cukup menguatkan pandangan kami pada malam tanpa penerangan ini. Menunggu nasi yang belum matang, kami bergerak ke bibir pantai. Membasahi kaki dengan air laut yang sejuk. Beberapa ikan dan udang yang melintas menggoda kami untuk mendapatkan makanan tambahan. Jadilah malam ini kami berburu ikan di pantai. Dengan bantuan head lamp dan senter pada handphone, kami berusaha menangkap ikan, kepiting dan udang yang kami lihat. Hasilnya lumayan juga mengingat kami menangkapnya dengan tangan.

Makan malam sederhana namun menjadi menu wajib kami telah tersedia. Bergantian kami menikmati nasi hangat, mie rebus ditambah udang dan ikan bakar yang kami tangkap. Bergelas-gelas kopi dengan aneka racikan pun dihidangkan. Manis, setengah manis, hingga pahit sekali.

Obrolan, nyanyian, canda tawa mengantar kami pada larutnya malam. Membawa kami memasuki pagi yang dini. Meski satu-persatu kami meninggalkan tempat duduk dan merangsekkan badan di dalam tenda yang hangat. Hangatnya kayu-kayu yang terbakar menemani obrolan yang tersisa hingga subuh membangunkan semua yang memilih terlelap.

Subuh datang, kami harus bersiap. Menyegarkan diri dengan air wudlu dan sholat subuh. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk ketika menuju mushola. Kami harus bergegas. Merapikan sisa obrolan semalam dan meringkasnya dengan rapi di samping tenda.

Gelas-gelas kopi sisa semalam belum sempat kami bersihkan ketika kami kembali menyeduh air pagi ini. Menikmati aroma kopi sembari duduk memandang pantai dan mendengar debur ombak yang tak seberapa besar, kesempatan emas yang enggan kami lewatkan.

Pengunjung pantai mulai berdatangan, mendahului matahari yang terhalang pepohonan tinggi di belakang kami. Kami berbenah di bawah tatapan pedagang yang selesai menata lapaknya. Pengunjung yang ramai menggelar tikar di dekat tenda. Seolah hendak mengatakan bahwa ini tempat favorit mereka. Sekarang maupun hari-hari sebelumnya.

Kami bergegas, membagikan kantong plastik kepada seluruh relawan dan mulai menyisir pantai Teluk Awur selatan ini. Memungut sampah non organik dan membagikan pembatas buku bertuliskan semangat GPL, Sebuah Gerakan Sederhana Mencintai Bumi. Lagi-lagi kami menemukan tempat-tempat sampah dadakan, setumpuk sampah dengan sisa pembakaran yang tidak sempurna.

Melihat kami dengan kantong plastik yang penuh sampah, pedagang kemudian melepaskan senyum dan menyapa kami dengan lebih akrab. Beberapa nelayan yang sedang menikmati kopinya pun meminta kami memotret mereka. Sungguh melegakan. Ternyata masyarakat dan pengunjung akhirnya mengerti maksud kami.

Setelah semua sampah terkumpul, kami melakukan evaluasi sejenak tentang kegiatan yang telah kami lakukan sejak hari sebelumnya. Berbagai masukan dan permasalahan diajukan. Sampai tiba-tiba seorang ibu yang duduk bersama keluarganya di samping tenda menginterupsi kami. Beliau menyampaikan terima kasih terdalam kepada relawan GPL dengan aksinya. Sungguh melegakan.

Selesai semuanya, kami membongkar tenda dan membawa semua sampah yang terkumpul. Pukul delapan tiga puluh menit Kami berpamitan pada keluarga mbak Khoir, yang menjadi tuan rumah kami disana, sebelum membawa sampah kami ke tempat pembuangan sampah.

Dan kami, melaju di atas motor menuju desa Bulu untuk menyeberang ke Pulau Panjang….

Susur Pantai Krakal

.

.

Salam GPL….
Sabtu, 28 Mei 2011
GPL Jogja bekerjasama dengan Kelompok Studi Biologi (KSB) Univ. Atma Jaya Yogyakarta melaksanakan susur pantai dan bersih-bersih di Pantai Krakal, Wonosari, Jogjakarta.
berangkat dari kampus 2 UAJY, pukul 7 pagi, dengan touring puluhan sepeda motor.
kegiatan berlangsung mulai pukul 10.00 – 16.00 WIB
diharapkan mengenakan kaos warna putih,
iuran 10.000,- untuk makan siang dan tiket masuk.
informasi hubungi Tosi; 088216288590
Salam Lestari

Minggu, 1 Mei 2011

Sesuai janji, kami bertemu  di halaman kampus APMD Yogyakarta pukul tiga sore. Selanjutnya kami akan melakukan kegiatan rutin Gerakan Peduli Lingkungan untuk membersihkan lingkungan dengan tangan kami sendiri, sekaligus melakukan Kampanye Bersih kepada masyarakat sekitar. Kali ini, kami berencana melakukan kegiatan tersebut di Pantai Kwaru, Bantul. Menurut informasi yang kami dapatkan, sampah di Pantai Kwaru sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.

Satu persatu relawan GPL berdatangan. Setelah kedua belas relawan telah berkumpul, kami berangkat ke Pantai Kwaru yang berjarak sekitar 45 menit dari Kota Jogja.

Sore masih belum sepenuhnya habis ketika kami sampai di Pantai Kwaru. Namun mendung yang menggantung menghalangi kami menikmati tenggelamnya matahari di bibir pantai. Setelah bertemu dengan salah satu relawan GPL yang tinggal di sekitar pantai Kwaru, kami melakukan observasi lingkungan di sekitar tempat kami akan menghabiskan malam. Nampak disana sebaran sampah di setiap tempat yang kami temui. Yah…., tugas sudah menanti kami esok pagi.

Maghrib pun tiba. Saatnya mengucap syukur kepada Allah SWT bahwa kami masih diberikan kesadaran dan kesempatan untuk melakukan sesuatu untuk bumi tercinta. Di sela jama’ah maghrib dan isya, kami sempat bertemu dan berdiskusi dengan ketua RT setempat tentang rencana kegiatan kami dari awal hingga akhir. Ketua RT yang berwenang di Pantai Kwaru sangat mendukung kegiatan yang kami lakukan, bahkan beliau mendorong kami untuk melakukan kegiatan semacam ini di Kwaru secara rutin.

Selepas isya, satu persatu relawan membongkar isi tas nya, berbagai macam makanan ringan dan minuman siap saji dikeluarkan. Dhanny, koordinator kegiatan ini, segera mengeluarkan kompor dan memanaskan air untuk membuat kopi. Jam menunjukkan pukul 19.45 WIB ketika dua orang relawan dari Jogja datang terlambat dan segera bergabung dengan kami. Acara pertama dimulai.

Sambil membuat kopi dan menikmati makanan ringan, kami mendengarkan presentasi tentang jenis-jenis sampah, karakter dan cara pengolahannya. Di sinilah kami belajar lebih. Di GPL, relawan tidak hanya memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesadaran menjalani hidup bersih ataupun menjaga lingkungan saja, namun relawan juga diharapkan selalu memperdalam pengetahuan tentang permasalahan sampah dan pengelolaannya.

Presentasi yang santai dan disertai dengan obrolan-obrolan yang penuh canda tawa membuat suasana malam itu sangat nyaman buat kami. Meski diluar, hujan deras tak kunjung berhenti dan gemuruh ombak dahsyat mewarnai malam di pesisir pantai selatan Jawa itu.

Tak terasa malam semakin larut, presentasi dan diskusi tentang sampah pun usai. Kami baru menyadari bahwa perut kami belum terisi nasi. Dengan cekatan beberapa relawan menanak nasi dan memanaskan air untuk membuat mie rebus. Dan canda tawa terus berlanjut. Entah cuacanya yang memang hangat atau kebersamaan kami yang menghangatkan suasana, kami tak merasa kedinginan pada malam yang diguyur hujan deras ini. Makan malam sederhana pun terasa istimewa.

Satu persatu relawan mencari tempat untuk merebahkan diri, relawan laki-laki merebahkan diri di pondok yang terbuka, sedang yang perempuan beristirahat di dalam tenda yang didirikan disamping pondok. Meski sebagian besar sudah jatuh terlelap, namun masih saja ada beberapa relawan usil yang bermain gitar dengan suara keras dan serak, sesekali mereka bercanda tawa sebelum akhirnya memilih untuk memutar dua film animasi yang cukup menarik.

Tak berapa lama setelah film animasi kedua diputar, adzan subuh terdengar berkumandang. Satu persatu relawan dibangunkan untuk mendirikan sholat subuh bersama. Sungguh pengalaman yang indah.

Langit gelap sedikit demi sedikit memudar. Cahaya fajar mulai menunjukkan deburan ombak yang menghantam pantai. Seperti orang yang tak sabar, kami mendekati bibir pantai yang sekalipun tak berani kami sapa malam sebelumnya. Tiga puluh menit kemudian, kami hanya bermain-main di pantai, menikmati debur ombak, menyentuh air laut, berjalan-jalan di pasir yang lembut hingga mengambil gambar yang sudah bisa dipastikan pasang gaya narsis.

Tepat pukul 6 pagi, kami mulai membagi kantong plastik ukuran besar untuk menampung sampah yang kami kumpulkan. Perburuan dimulai. Lima belas relawan bergerak menyisir lorong cemara sebelah barat. Belum lagi lima puluh meter kami berjalan, kami sudah merasa bahwa sebaran sampah di lokasi itu sungguh juara. Juara kotornya. Kami terus bergerak mengumpulkan sampah-sampah non organik seperti plastik, gabus (styrofoam), karet, kaleng, botol minuman, pecahan kaca dan sebagainya.

Satu persatu kantong plastik kami penuh dengan sampah. Belum setengah perjalanan sudah lebih dari sepuluh kantong plastik sampah terkumpul. Setelah lorong cemara sisi barat kami sisir hingga ujung, kami lanjutkan dengan menyisir bibir pantai dengan berjalan ke arah sebaliknya. Disini kami juga mengumpulkan puluhan kantong plastik penuh sampah. Sesekali ketika ombak besar dating, kami harus bersicepat berlari ke tempat yang aman, untuk kemudian kembali ketika ombak sudah turun ke laut. Yang menarik untuk kami catat di sini adalah, setiap kali kami membersihkan bibir pantai dari sampah, ombak akan mengirimkan sampah lain ke pantai. Hingga kami mengambil kesimpulan bahwa banyak terdapat sampah yang terombang ambing di laut Pantai Kwaru ini.

Tepat pukul delapan pagi, kami baru menyelesaikan sisi barat pantai Kwaru, padahal target kami sebelumnya kami sudah harus menyelesaikan kedua sisi pantai pada pukul delapan. Target kami tidak terpenuhih karena minimnya relawan yang terlibat dibanding dengan banyaknya sampah di Pantai Kwaru. Pengambilan sampah terpaksa kami hentikan, karena siang ini, banyak relawan yang harus kembali melanjutkan aktivitas hariannya di kampus ataupun di kantor.

Bersih-bersih pantai Kwaru diakhiri dengan evaluasi singkat tentang jalannya kegiatan GPL di Kwaru dan rencana kegiatan berikutnya.

Sebelum kembali ke Kota Jogja, kami sarapan dengan menu favorit setiap kegiatan GPL diselenggarakan, nasi dan mie rebus, membersihkan tempat kami menginap dan mendistribusikan sampah yang telah kami kumpulkan.

Selamat jalan relawan juara! Sampai jumpa pada kegiatan GPL berikutnya.

Kwaru (update)

Assalamu’alaikum, Kawan!!!!!

Salam Peduli Lingkungan.

Alhamdulillah malam ini, 25 April 2011, setelah kami, Tosi, Sandy, Danny n Bejo melakukan evaluasi kerja singkat sambil menikmati kopi di tempat biasa, kami telah merumuskan rancangan kegiatan kita di Kwaru Minggu-Senin 1-2 Mei nanti.

Monggo dinikmati:

Kegiatan: Gerakan Bersih Pantai Kwaru.
Starting time: Minggu, 1 Mei 2011 pukul 15:00 WIB
Meeting point: Halaman kampus APMD jalan Timoho Jogjakarta

Setelah berkumpul di halaman kampus APMD, kita akan berangkat mengendarai sepeda motor ke lokasi Pantai Kwaru, Bantul. Sampai di Pantai Kwaru, menikmati tenggelamnya matahari dan setting lokasi.

Jeda maghrib hingga Isya, kita akan melakukan ramah tamah dengan tuan rumah (pak RT). Pukul 20.00-22.00 memasuki sesi formal. Dalam hal ini, kita akan belajar mengenai klasifikasi sampah dan pengelolaannya. Pukul 22.00 – 24.00 memasuki sesi informal. Mulai pendirian tenda, pembuatan api unggun dan masak bersama.

Istirahat….. zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Selepas subuh, menikmati terbitnya matahari dan suasana pantai Kwaru. Pukul 5:30 WIB, bersih-bersih pantai dimulai dengan radius 2 kilometer dari tenda. Pukul 8:00 persiapan pulang ke Jogjakarta. Pukul 9:00 WIB sayonara…..

What to Prepare:
1. Perlengkapan pribadi
2. Alat makan (piring plastik + sendok)
3. Senter

What to Bring:
1. Air mineral (secukupnya)
2. Mie instan (rebus/goreng) 2 bungkus
3. Beras (setengah gelas)
4. Snack (yang banyak)

Untuk kebutuhan penyewaan alat dan sebagainya, masing-masing iuran Rp. 5.000,-

More info: send message to Danny 081335798689

Awal mula..

Diawali dengan @dgreatfa me-mention saya ditwiiter bahwa ada ajakan naik gunung dari @masebejo, waktu itu saya tidak langsung menanggapi karena selain masih umek dengan kerjaan yang tingkat pressure lumayan lagi tinggi beberapa bulan terakhir ini juga di bulan april ini saya sudah ada planning naek ke gede tanggal 22 besok yang ternyata akhirnya batal karena sesuatu dan lain hal.

Tapi kemudian saya tertarik dengan user @masebejo itu, entah di mana pokoknya sepertinya saya tahu user id itu, setelah usut punya usut yang ternyata kemudian saya di sebuah rumah bernama ngerumpi.com, dan ternyata id ini saya follow tulisannya di sana, pantes saja merasa tidak asing..:D

Baru setelah saya tahu bahwa pendakian ini tak sekedar pendakian biasa, tapi ada misi yang terkandung di dalamnya, sebuah misi akan kepedulian tentang lingkungan, sebuah misi tentang pendakian yang bersih, sebuah misi yang istilahnya kita bersih-bersih gunung…what? ngebersihin gunung? Emang bisa? Karena tentu saja sangatlah susah buat menjaga gunung dari sampah-sampah, dengan misi paling tidak dengan tangan kita sendiri kita mencoba mengurangi sampah-sampah yang ada selama jalur pendakian saya mengiyakan pendakian ini.

Jumat, 8 April 2011

Pagi : ngantor dengan kostum kemeja dan celana bahan, tapi kaki bukannya heels tapi sandal gunung serta dipunggung memanggul yang namanya backpack. Sampai kantor ketar-ketir ga jadi brangkat mengingat volume kerjaan hari itu yg langsung meningkat, serta adanya sp buat lembur hari sabtu, dan adanya pemberitahuan bahwa sabtu besok ada uji teknik…*ndak bisa mikir…kepala udah pening duluan*

Siang : sms-an sama @dgreatfa, dia berangkat dari malang jam 4 sore dengan membawa mobil yang sudah kita carter sampai pos pendakian kledung dan mungkin akan tiba di kantorku sekitar jam 7an..oke deal!! Di sms mbak nina bahwa @dgreatfa tak membawa sleeping bag sehingga saya harus bawa sb sendiri karena punya dia nantinya akan dipakai @dgreatfa.

Sore : mulai panik dengan volume kerjaan, dan tetap memutuskan berangkat..dan dikala magrib baru sadar kalau belum makan seharian. Memutuskan makan dulu sebelum @dgreatfa datang menjemput. Sekitar jam 7-an @dgreatfa datang merapat yang ternyata butuh waktu 2 putaran buat menemukan kantorku. Disorientasi saya kumat ketika harus ngasih tahu rute kekantor.

Siap berangkat, dan ternyata baru tahu kalau @dgreatfa dan dua temen lainnya belum makan. So? Sebelum meninggalkan Surabaya kita berempat sempet memutari 2 lap tugu pahlawan sebelum menemukan apa yang namanya Bebek Tugu Pahlawan. Waktu makan saya mendapatkan sms yang kemudian saya tahu kalau sms itu dari @masebejo, padahal sebelumnya tak piker dari mbak nina..tiwas sebelumnya wes manggil mbak di sms-sms balesan..:)

Selesai makan, kita berempat siap kemon berangkat, dan masalah disorientasi jalan yang sudah kejadian dua kali tadi terulang lagi. Kita berempat sudah masuk tol yang arah gresik..tapi kok jalannya kita tetep muter-muter situ aja ya? Sudah 15 menit berlalu tetep muter-muter dalam tol tanpa tahu arah harus melaju kearah mana. saya sendiri satu-satunya orang yang pernah lewat tol ini juga mengalami disorientasi. Diperparah saya sendiri malah masuk angin serta muntah-muntah di jalan..:( *ndak mbois blas…muntah-muntah depan 3 pria…pasaran langsung turun* *appa cobbbaaaa*

Setelah muter-muter tak tentu arah, kita berempat memutuskan keluar tol dan kembali ke Surabaya, serta menuju gresik tanpa melewati jalan tol, tapi jalan biasa yaitu daerah kalianak..dan seterusnya di jalan mencari mobil atau kendaraan lain dengan plat daerah Semarang atau Magelang..terkesan tolol? Memang..kita berempat hanya bisa tertawa menertawakan diri sendiri..

Setelah melewati lamongan @dgreatfa atau fauzan memutuskan tidur mengingat ini perjalanan akan panjang dan besok juga dibutuhkan stamina yang cukup buat memulai pendakian. Kemudian saya juga menyusul untuk tidur mengingat badan yang udah capek dan pusing yang mulai menyerang, ga lucu kalau besoknya saya tak jadi naik hanya karena tiba-tiba badan ndak fit.

Bangun-bangun jalan gelap, ndak tahu posisi mobil ini ada di mana. Tanya sama temen yang nyetir juga ndak tahu dia, akhirnya merhatiin jalan yang gelap sambil nyari plang apa aja yang menunjukkan di mana posisi kita sekarang. Kalau dipikir-dipikir bego juga ya? Kita berempat di mobil pake hape yang ga abal-abal tapi ndak kepikiran buat buka google map..:D *alas an utama…hemat batere*

Akhirnya nemuin plang juga..dan ternyata masih di Rembang, masih brapa km lagi ya buat sampe semarang? Dan ketika di Rembang ini kita ternyata nyasar lagi sampe Demak..^^V. Baru yakin ndak nyasar ketika udah nemuin plang di jalan Semarang 36km lagi…yipppeee…padahal mbak Nina sama mas Nafis udah bolak balik nanya di mana posisi kita.

Sabtu, 9 April 2011

Ketika jam menunjukkan angka jam lima sekian-sekian, kita berhasil merapat di rumah mbak Nina buat numpang subuhan sekalian jemput. Sekitar jam 6-an kita meninggalkan rumah mbak Nina menuju pos pendakian Kledung. Kita di sana merapat sekitar jam 10an yang disambut dan sudah ditunggu sama teman-teman dari Wonosobo, Jogja, semarang, jepara sama Bandung…*bener-bener bedol desa…dan ternyata dari 25 pendaki, ceweknya cuman 5 orang..:D

Sesampainya disana kenalan dulu sama mereka-mereka, ada mas Nafis selaku @masebejo..:p, ada mas nanang, mas jenggot, uda, dhanny, pepi, nana, indra…yang sampai sekarang saya ndak hafal nama panggilannya..:D, terus dilanjut dengan sarapan pagi dengan menu nasi putih, mie dan telor dadar buatan ibu-ibu di base camp kledung.
Sekitar jam 11-an..rombongan pendakian yang terdiri dari 25 orang ini memulai pendakian. Rute pertama melewati jalan berbatu rapi sekitar 2 km, kanan kiri ditemani dengan lading sawah warga yang ditanami tanaman kubis, jalan berbatu ini mulai kerasa langsung menanjaknya terurama buat saya yang memang bener-bener tanpa persiapan latihan fisik dulu walau jogging barang 5 lap sekalipun. Beda dengan mbk Nina yang masih semangat, saya mulai berkeringat parah di sini. Rombongan masih berdekatan, masih diiringi senda tawa dan gurauan serta senyum yang sangat sumringah.


Begitu jalan berbatu rapi ini ilang, 2km sudah terlewati didepan mata langsung terpampang jalan sempit berbatu di campur tanah serta licin dan tergelincir kalau ndak hati-hati. Setelah itu kita akan menemukan pos I sibajing 1900 mdpl disini masih terasa sejuk kanan kiri rindang dengan pepohonan pinus kanan kirinya. Nah, dari pos I ini berdasar hasil gugeling katanya kita akan melewati 2 buah punggungan gunung untuk sampai di pos II dengan ketinggian 2120 mdpl.

Nah, ketika dari pos II ke pos III ini jalannya sudah mulai naudhu billah kemiringannya, belum lagi batu-batu buat pijakan dan pegangan, dan dari pos II ke pos III ini kelompok yang masih gerombol-gerombol mulai terpisah..dan udah default, saya sama @dgreatfa menjadi rombongan terakhir dan untuk mbak nina yang sebelumnya udah jogging 5 lap, belionya masih melenggang dengan santainya sedang aku sama @dgreatfa napas udah kembang kempis.

Dan mator tengkyu yang banyak buat tim sapu bersih mas nanang dan mas jenggot yang udah dengan setia menemani kita..:D. Selama pos II ke pos III ini kita juga bolak balik istrahat berkali-kali, bahkan walau masih ditanjakan sekalipun saya rela guling-guling di bebatuan kalau udah capek tak terkira.

Untuk ngilangin capek agar tetep semangat, saya sama mbk nina ngoceh kesana kemari dari mulai menghitung kemiringan medan ini sampai membandingkan medan pendakian sindoro ini dengan medan pendakian-pendakian sebelumnya, dan sampai pada kesimpulan : medan ranukumbolo sekalipun masih ringan dibanding medan sindoro ini..:D *suatu alasan pembenaran agar ga dibilang terlalu manja kalau udah capek..:*

Dan yang pasti, saya amat yakin mas nanang pasti aslinya sudah bosen sangat mengingat saya bolak balik nanya, jalan air itu yang mana sih? Watu tatah itu mana sih? Pos III berapa meter lagi?? *apppaaaa??? Berapa meter??? ). Yang ada mas nanang cumin jawab masih di depan kok mbak, ntar juga nyampe..ntar?? yah…ntarnya mas nanang ternyata beda jauh sama ntarnya saya..:D

Belom lagi kondisi fauzan yang sudah teramat lelah, antara capek, ngantuk dan lapar jadi satu. Sehingga begitu menemukan batu besar bin gede serta tanah lapang, kita berasa menemukan circle K atau indomaret atau KFC..hihi..hati hepi banged..bagaimana tidak, udah berasa nemu surge aja, tanah lapang buat rebahan, ngeluarin kompor dan nasting, ngeluarin logistic, bikin mie, bikin stmj, bikin kopi terus langsung poto-poto narsis dengan latar gunung sumbing yang berdiri indah dengan cakepnya, begitu kenyang dan wajah jadi kembali sumringah..smileeee….kliiik!!!.

Setelah istrahat tercukupi, kita memulai perjalanan lagi demi mengejar sampai pos III sebelum gelap, kita belum dhuhur-an sama ashar-an. Dan begitu sampai di pos III dengan ketinggian 2.530 mdpl badan langsung rebahan di tanah lapang ini, serta dilanjut dengan menjamak dhuhur sekaligus ashar. Di pos III ini tanah lapangnya bener-bener lapang, bahkan sudah ada beberapa tenda yang sudah berdiri dari kelompok pendaki yang lain.

To be continued…..:D cerita selanjutnya di ganti poto-poto ini dulu….

*ps….3 perempuan dibawah ini adalah Kartini masa kini loh..^^V

Kekerasan bisa menjadi legal jika ditujukan pada orang yang pantas menerima kekerasan itu sendiri. Pembuang sampah yang tidak bertanggungjawab adalah satu diantaranya; golongan biadab yang pantas dilenyapkan.
Do it! Lakukan.. Lakukan..lakukan..
Tuhan Maha ampun. Bersihkan sampah sekaligus PEMBUANGNYA dari muka bumi tercinta, untuk menciptakan tatanan bumi yang bersih dan sehat.
Smrg, 22/4/2011

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.